ANALISIS KEKUATAN STRUKTUR JEMBATAN TABAYANG DI KOTA TANJUNGBALAI MENGGUNAKAN METODE MOMEN INERSIA
DOI:
https://doi.org/10.54314/jssr.v9i2.6843Keywords:
Analysis of the durability of the Tabayang Bridge using the moment of inertia methodAbstract
Abstract: Structural analysis research on the Tabayang Bridge in TANJUNG BALAI City, North Sumatra. To determine the structural resistance of the Tabayang Bridge using the moment of inertia method formula, The research on the resistance of the Tabayang Bridge, which has a total length of 600 m, the beam is divided into three cross-sectional segments (top, middle, web, and bottom with the following provisions): Upper flange (Concrete Plate): Width ????1 = 120 cm, Thickness ℎ1 = 20 cm. Web (Beam Web): Thickness ????2 = 15 cm, Height ℎ2 = 140 cm. Lower flange (Bottom Load): Width ????3 = 50 cm, Height ℎ3 = 30 cm. The results of the study indicate that the maximum bending stress that occurs (11.40 MPa) is smaller than the allowable compressive strength of the concrete (σ_permit = 15 MPa), so the Tabayang Bridge girder cross-section is declared SAFE against the planned bending load. The moment of inertia is a crucial parameter in bridge structural strength analysis because it determines the cross-section's ability to withstand bending forces and control deflection. The greater the moment of inertia, the greater the structural stiffness and the smaller the stress and deflection caused by loading. Therefore, calculating the moment of inertia is a key step in the planning and safety evaluation of bridge structures, ensuring that the resulting structure meets the strength, stiffness, and safety requirements of civil engineering standards.
Keywords: Analysis of the durability of the Tabayang Bridge using the moment of inertia method
Abstrak: Penelitian analisa struktur Jembatan Tabayang di Kota TANJUNG BALAI Sumatra Utara ,Untuk mengetahui ketahanan struktur pada jembatan tabayang yang menggunakan rumus metode momen inersia, Penelitian ketahanan jembatan tabayang yang memiliki panjang total 600 m balok tersebut dibagi menjadi 3 segmen penampang (atas,tengah,web dan bawah dengan ketentuan), Flens atas (Plat Beton) : Lebar ????1 = 120 cm, Tebal ℎ1 = 20 cm. Web (Badan Balok) : Tebal ????2 = 15 cm, Tinggi ℎ2 = 140 cm Flens bawah (Beban Bawah) : Lebar ????3 = 50 cm, Tinggi ℎ3 = 30 cm. Hasil dari penelitian tersebut pada tegangan lentur maksimum yang terjadi (11.40 MPa) lebih kecil dari kuat tekan izin beton (σ_izin = 15Mpa), maka penampang gelagar Jembatan Tabayang dinyatakan AMAN terhadap beban lentur yang direncanakan. Momen inersia merupakan parameter penting dalam analisis kekuatan struktur jembatan karena menentukan kemampuan penampang dalam menahan gaya lentur dan mengendalikan lendutan. Semakin besar nilai momen inersia, semakin tinggi kekakuan struktur dan semakin kecil tegangan serta lendutan yang terjadi akibat pembebanan. Oleh karena itu, perhitungan momen inersia menjadi salah satu tahapan utama dalam perencanaan dan evaluasi keamanan struktur jembatan, sehingga konstruksi yang dihasilkan memenuhi persyaratan kekuatan, kekakuan, dan keselamatan sesuai standar teknik sipil.
Kata Kunci: Analisis ketahanan Jembatan Tabayang Metode momen inersia.
Downloads
References
Asroni. (2010). Balok dan Plat Beton Bertulang. Surakarta: Graha Ilmu.
Asroni. (2017). Struktur Beton I (Beton Bertulang). Yogyakarta: Graha Ilmu.
Badan Standardisasi Nasional. (2016). SNI 1725:2016 Pembebanan untuk Jembatan. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2016). SNI 2833:2016 Perencanaan Jembatan Terhadap Beban Gempa. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2019). SNI 2847:2019 Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Dipohusodo, I. (1996). Struktur Beton Bertulang. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Hibbeler, R. C. (2018). Mechanics of Materials. Harlow: Pearson Education.
Hibbeler, R. C. (2017). Structural Analysis. Harlow: Pearson Education.
Nilson, A. H., Darwin, D., & Dolan, C. W. (2010). Design of Concrete Structures. New York: McGraw-Hill.
Salmon, C. G., Johnson, J. E., & Malhas, F. A. (2009). Steel Structures: Design and Behavior. New Jersey: Pearson.
Supriyadi, B., & Muntohar, A. S. (2007). Jembatan. Yogyakarta: Beta Offset.
Timoshenko, S. P., & Gere, J. M. (2009). Mechanics of Materials. Belmont: Cengage Learning.
Vis, W. C., & Gideon, H. K. (1993). Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang. Jakarta: Erlangga.
Setiyarto, Y. D. (2017). Standar Pembebanan pada Jembatan Menurut SNI 1725:2016. Prosiding SAINTIKS 2017.
Sapulete, C. (2020). Analisis Pembebanan
Jembatan Menggunakan Standar Pembebanan SNI 1725:2016 (Studi Kasus: Jembatan di Kabupaten Pegunungan Arfak). Jurnal Portal Sipil, 9(1), 24–30.
Putra, R. A., Tanjung, D., & Simbolon, R. H. T. (2022). Evaluasi Perencanaan Struktur Atas Jembatan Beton Bertulang Bentang 10 Meter Kelas II dengan Menggunakan Beban Gempa SNI 1726:2019. Prosiding Seminar Nasional Teknik UISU.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2018). Pedoman Perancangan Jembatan Pelengkung. Jakarta: Kementerian PUPR.
Hasil riset) dan 20% literatur SEKUNDER (buku, website yang dapat dipercaya) dalam kurun waktu sekurang-kurangnya 5 tahun terakhir
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Junaidi Siahaan, Adhyaksa Dealova Lubis, Rahmat Hidayat Samosir, Abdul Wahid Syabana

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









